Sang Pemimpi

slide1

Salam Kenal & Salam Persahabatan

Ary Praptono itulah namaku. . .
Aku adalah anak Tunggal dari sepasang suami istri yang bernama “Dutono & Prapti”. N
ama “Praptono, berasal dari penggabungan nama kedua orang tuaku tersebut (Prapti + Tono).

So, panggil saja aku, Ary…


Inilah sepenggal cerita tentang kisah hidupku…

Aku dilahirkan 41 tahun lalu di sebuah kota kecil di Jawa Tengah yaitu ‘MAGELANG. Tiga bulan setelah aku lahir, kami sekeluarga pindah ke sebuah desa kecil yaitu “Gandu Wetan, yang berlokasi di kecamatan Ngadirejo kabupaten Temanggung. Disana, kami sekeluarga menetap bersama keluarga besar “Mbah KASTUBI. Gandu Wetan adalah sebuah dusun kecil yang asri, nyaman, tenang dan dingin dengan kehidupan masyarakat mayoritas sebagai petani. Sampai hari ini aku masih sedikit teringat gambaran rumah kami yang terbuat dari papan kayu yang disusun melintang dan rapi dengan sebuah pintu dan tiga jendela kaca di bagian depan, sebuah sumur yang dangkal di samping rumah, pohon jeruk dan kelengkeng di depan rumah, kamar mandi dan dapur yang terpisah dari rumah induk, dan waktu itu masih belom ada penerangan listrik. Penerangan sehari hari kami masih menggunakan sebuah lampu minyak/teplok. 

fotoku saat masih bayi bersama ibuku dan kakak sepupuku

Waktu terus berjalan, entah apa yang aku alami dan terjadi saat kecil aku sendiri sudah banyak yang lupa, hanya mendengar sedikit cerita dari simbahku tentang masa kecilku yang cukup bahagia dan cerita tentang kedua orang tuaku pada masa itu sangat harmonis. Saat usia 4 tahun aku mulai bersekolah di TK Ngadirejo, lalu setelah itu aku melanjutkan sekolah dasar di SD Ngadirejo 1 yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggalku, berangkat dan pulang sekolah aku selalu diantar jemput oleh seorang kusir andong kuda langgananku. 

Di masa inilah cerita kehidupanku sudah benar benar di mulai, saat itu aku masih SD kelas 1 Ayahku meningalkan aku dan ibuku untuk menghadap Sang Pencipta karena sakit yang ia derita, umur ayahku masih sangat muda ’36 tahun.

Waktu ayahku meninggal, aku masih belum faham dan belum bisa mengartikan akan kehilangan sosok seorang Ayah, seperti hal biasa saja bagiku.
Yang aku tau hanyalah tiap hari ibuku bersedih dan menangis terus semenjak ayahku tiada dan akupun tidak tau apa yang harus kulakukan untuk menghibur ibuku, aku hanya berdiam saja, aku tidak tau apa apa.

Sepeninggal ayahku, aku bersama ibuku pindah ke Magelang. Kami berdua tinggal bersama keluaga besar kakekku Sang Master “Mbah Harjo Paku.
Kenapa aku sebut kakekku sang master, karena kakekku dan nenekku adalah sepasang suami istri yang sangat di kagumi masyarakat sekitarnya karena mereka mempunyai 18 anak, buah perkawinannya.
Bayangkah saja !!!
Ibuku no 4 dari 18 bersaudara, betapa besar sekali keluarga dari ibuku. 

Di Magelang ibuku membuat rumah tinggal di samping rumah kakekku, aku hidup berdua dengan ibuku dan akupun melanjutkan sekolah dasar mulai kelas 2 di SD Rejowinangun Selatan 2 lalu di lanjutkan ke SMP Tarakanita Magelang.

Saat memulai sekolah di bangku SMP dan saat itu pula ibuku mulai sakit sakitan seperti halnya ayahku waktu itu. Berulang kali melakukan pemeriksaan kepada beberapa dokter, penyakitnyapun tidak jelas, dokter hanya bilang kecapekan dan perlu extra istirahat. Aku yakin, ibuku mulai sakit karena selalu memikiran ayahku dan karena statusnya yang menjanda terlalu lama. Ibuku adalah sosok wanita yang amat setia dan tulus hati, dia tidak mau menikah lagi. Hanya sosok ayahku saja yang selalu tertanam di hatinya walaupun sudah meninggalkannya sekian lama, lebih dari 9 tahun menjanda.
Aku sangat Bangga, Haru dan Acung ke 4 jempol untuk Ibuku, dia seorang  ibu yang tabah dan kuat hatinya dalam menghadapi segala cobaan…

Ibuku adalah “wanita terhebat yang pernah hadir di dalam hidupku”

Didalam sakitnya, ibuku masih mencari nafkah sebagai seorang ‘guru sekolah dasar di SD Kemirirejo 1 Magelang. Fisiknya semakin lama semakin lemah karena sakit yang di deritanya tak kunjung sembuh.

Karena penyakit yang di deritanya itu ibuku sering sekali keluar masuk rumah sakit dan aku sering di tinggal sendirian di rumah karena ibuku opname, baik opname di rumah sakit sekitar magelang ataupun di luar kota.

Saat menginjak usia 15 tahun (kelas 1 SMA Negeri 3 Magelang) karena sakit yang di deritanya ibukupun pergi meninggalkan aku seorang diri menghadap Sang Pencipta untuk bertemu dengan Ayahku. Dan saya hidup seorang diri tanpa ayah dan ibu bahkan aku tidak memiliki saudara kandung satupun. Berat rasanya hidup sendiri…

Saat itu di otakku hanya terlintas ;

“Aku terus piye lan kudu piye, Uripku njuk karo sopo??? Sekolahku Piye???

Rencana Tuhan itu indah, tak ada yang tau… Walaupun sedih bagiku tapi Kedua orang tuaku sudah bahagia di sana, aku juga harus turut Bahagia, mereka sudah berkumpul kembali dan aku yakin mereka selalu melihatku dan membimbingku dari sana.

Perlu kekuatan batin dan mental untuk menghadadapi predikat sebagai anak Yatim Piatu dan Sebatang Kara. Tidak ada seorangpun yang mengaturku, aku bebas memilih kehidupan apapun. Tidak ada seorangpun yang melarangku.

Disinilah kemandirianku mulai terbentuk dengan sendirinya, dan aku berharap kehidupanku kedepan akan menjadi naik. Apa jadinya Aku kelak??? Tak ada yang perduli, semua tergantung diriku sendiri. Aku harus Bisa menjadi orang Hebat !!!

Akhirnya akupun mengikuti Arus Kehidupan, menumpang hidup di tempat paklik/bulik dan pakdhe/budhe dari keluarga besar “Kastubi ataupun “Harjo Paku hingga aku menyelesaikan semua pendidikanku hingga sarjana berbekal dana pensiun yatim piatu yang aku terima dari ibuku. 

Semua ini ada Hikmahnya . . .

Puji Syukur, akupun bisa menyelesaikan pendidikanku dan memulai sebuah “Kehidupan Baru
Setelah lulus dari Kehutanan UGM, pada tahun 2000 aku mulai merantau dan bekerja sebagai Mandor Perkebunan di Wanayasa Purwakarta. Lalu pada tahun 2003 merantau ke Ibu Kota untuk bersekolah lagi di fakultas Ekonomi Universitas Borobudur, tapi sayang tidak sampai selesai hanya sampai semester 8, hanya mengambil sepenggal Ilmu tanpa Ijazah, dan diulang kembali tahun 2007 bersekolah di fakultas Hukum dengan hasil sama juga tanpa hasil.
Di tahun 2003 aku mulai bekerja sebagai seorang Sales di perusahaan Pengecoran Besi (foundry) di Kawasan Industri Pulogadung – Jakarta. Dalam bekerja di perusahaan ini karierku mulai bertumbuh, mengawali dari seorang Sales hingga jabatan terakhir sebagai Marketing Manager. Pada tahun 2013 aku resign dari perusahaan ini untuk mencari perusahaan baru dengan tujuan mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Pengalaman lebih dari 10 tahun menjadi seorang Sales & Marketing ini yang memacu untuk melakukan dan mendapatkan hal yang baru dengan tujuan hasil yang lebih baik.
Di tahun 2013 ini pula aku mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang machinery yang lokasinya di Lippo Cikarang. Kembali mengawali karier sebagai Productivity Enginering dan aku di percaya untuk membuat sebuah perusahaan baru, merencanakan master plan dari sebuah lahan kosong hingga menjadi sebuah perusahaan yang siap beroperasi. 
2 tahun sudah pengabdian di perusahaan ini hingga perusahaan mulai beroperasi dan saya diangkat menjadi pimpinan perusahaan menjabat sebagai Plan Manager.

Pada tahun 2015, disaat karier mulai meningkat aku justru menyatakan resign dari perusahaan tersebut untuk menjalankan sebuah bisnis sendiri yang sudah mulai aku rintis setahun sebelumnya. Tepatnya pada awal tahun 2014 sambil bekerja aku mulai merintis usaha di bidang Asuransi Jiwa bergabung bersama sebuah perusahaan besar PT AJ. Central Asia Raya – Salim Group sebagai seorang Agen Asuransi Jiwa khusus program “3i Networks. Disinilah cerita perjalanan menjadi agen asuransi di mulai.

Bermodalkan kenekatan dan mau mencoba sebuah perubahan, aku selalu menawarkan program 3i Networks ini kepada siapa saja yang aku temuin. Baik yang aku kenal ataupun tidak semua aku ceritain. Cerita terus tentang 3i Networks yang aku lakukan ini kadang sampai teman teman merasa jijik, risih dan malas kepadaku. Ada yang menerima dan ada yang menolaknya, tapi semua itu terus aku lakukan tak perduli apa yang  akan terjadi yang penting saya berprinsip “aku memberikan informasi yang baik kepada mereka tentang masa depan” dan hal ini akan aku lakukan terus menerus hingga kini…

Bermodal keyakinan dan impian besar, akhirnya sedikit demi sedikit apa yang saya lakukan tersebut membuahkan hasil yang luar biasa… 


Mengapa saya bergabung bersama “3i Networks ???

Tujuan utama adalah aku ingin memiliki sebuah “Proteksi sekaligus Investasi”, kita semua tidak tahu usia kita berakhir sampai kapan & dan kekuatan fisik kita sampai dimana, itulah yang membuat aku bertekat bergabung bersama “3i Networks dan memulai serius menjalankan bisnis ini, dengan tujuan agar keluargaku tercinta akan selalu hidup Bahagia saat ini dan mempunyai dana cadangan untuk masa depan. 

Semua itu belajar dari “Pengalaman Hidupku sendiri”, kedua orang tuaku meninggal saat masih muda dan mereka tidak meninggalkan apa-apa untukku, aku tidak mau hal yang sama terjadi pada keluarga baruku. Maka aku berjaga jaga dan memulai menyiapkan dana cadangan untuk kehidupan keluargaku, baik untuk sekolah anak-anakku dan masa tuaku. 

Silahkan baca catatan saya tentang perjalanan bersama ‘3i Networks, 

Ceritaku dalam menjalankan Bisnis #3iNetworks

my famMilikilah Polis Asuransi sebagai tanda cinta Anda kepada Keluarga


Tuhan Maha Adil dan Maha Sempurna, Dia tidak akan meninggalkan umatnya dalam kenistaan dan kehancuran, aku merasa ditopangnya sehingga aku masih bisa hidup bahagia sampai hari ini bersama keluarga baruku. Dan sekarang aku mempunyai “Keluarga Baru yang bisa aku Banggakan.

my fam

Aku menyebut diri sebagai Sang Pemimpi, karena aku meyakini bahwa apa yang terjadi dalam kehidupanku hari ini adalah wujud dari mimpi mimpi yang pernah terlintas di benakku selama ini…

Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, mobil

Itu sepenggal cerita kisah hidupku, dan aku yakin semua itu ada hikmahnya untuk kita bisa berjumpa di hari ini. Terimakasih

Salam Kenal, Salam Persahabatan & Salam Sukses
Ary Praptono || Sang Pemimpi