Profilku

ARY PRAPTONO namaku, aku anak tunggal dari sepasang suami istri ‘Dutono & Prapti. Nama Praptono adalah penggabungan dari nama kedua orang tuaku.

Aku dilahirkan di kota Magelang 43 tahun lalu, setelah aku lahir karena pekerjaan kedua orangtuaku yang berada di luar kota maka keluargaku pindah ke sebuah dusun Gandu Wetan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Disana, kita sekeluarga menetap & tinggal bersama keluarga besar ayahku dirumah kakek nenekku, ‘Mbah KASTUBI.

Gandu Wetan adalah sebuah dusun kecil yang asri, tenang dan dingin yang berada di bawah kaki gunung sindoro dengan kehidupan masyarakat mayoritas sebagai petani tembakau.

Sedikit teringat gambaran dusun dan bentuk rumah tinggalku yang sangat sederhana, terbuat dari papan kayu yang disusun melintang dan rapi dengan sebuah pintu dan tiga jendela kaca di bagian sisi depan, ada sebuah sumur dangkal di antara kamar mandi dan dapur yang terpisah di sebelah kanan rumah induk dan tepat di belakang rumah kami adalah kandang kerbau milik tetangga. Di halaman depan rumah ada sebuah taman beserta kolam ikan yang terletak dibawah pohon kelengkeng dan disamping kanan rumah setelah jalan kampung ada perkebunan jeruk yang begitu luas milik tetua kampung.

Begitu sunyi & tenang sekali dusunku. Di setiap malam hari suara katak, jangkrik dan gemercik air selalu terdengar lirih, menambah suasana yang menyatu dengan alam. Dimana di saat itu pula masih belom ada penerangan listrik, hanya menggunakan lampu minyak/teplok sebagai penerangan setiap harinya… 

Saat aku masih bayi bersama ibuku dan kakak sepupuku

u

Cerita Hidupku…

Apa yang aku alami saat masih kecil sudah banyak yang terlupa, hanya mendengar cerita dari nenekku tentang masa kecilku dan cerita tentang kedua orang tuaku yang sangat harmonis kehidupannya. Kedua orang tuaku bekerja sebagai pengajar, ayahku mengajar di SD Traji 1 sedang ibuku di SD Karanggedong.

Saat usiaku 4 tahun aku mulai bersekolah di TK Ngadirejo 1 yang lokasinya cukup jauh, berangkat sekolah aku selalu diantar ayah & ibu naik motor bersamaan mereka berangkat bekerja tetapi saat pulang sekolah aku dijemput oleh seorang kusir andong / dokar langganan. Dan sepulang sekolah sambil menunggu orang tuaku pulang bekerja aku ditemani oleh kakek & nenekku.

Saat usia 6 th, aku melanjutkan sekolah dasar di SD Ngadirejo 1 yang lokasinya bersebelahan dengan sekolah TK-ku sebelumnya. Dan di masa yang indah, disaat anak-anak dan masa yang penuh kasih sayang ini, keluargaku mendapatkan sebuah musibah yang sungguh Dahsyat.

Ayahku sakit dan harus opname di RS Ngesti Waluyo Parakan tapi rumah sakit ini tak mampu mengatasi lalu Ayahku dirujuk ke RS Karyadi Semarang. Ayahku menderita sakit ginjal dan harus segera operasi pencangkokan, tapi baru seminggu di rumah sakit dan belom dilakukan operasi tiba-tiba ayahku meninggalkan aku dan ibuku untuk menghadap Sang Pencipta.

Bak diterpa Petir di saiang bolong… Seluruh keluarga terkejut & tak menyangka sama sekali termasuk keluarga besar ibuku yang ada di kota Magelang, dimana usia ayahku masih sangat muda saat itu, ’36 tahun.

Waktu itu, di usiaku 6 th aku masih belum faham dan belum bisa mengartikan akan kehilangan sosok seorang Ayah, seperti hal biasa saja bagiku. Tetapi berbeda dengan ibuku, setiap hari ibuku bersedih merenungi nasib dan terus menangis. 

Tempat Pemakaman Umum dimana Ayahku dimakamkan tidaklah jauh dari rumah kakek nenekku, hanya sekitar 300m dan tempat itu terlihat jelas dari depan rumah kami, mungkin inilah yang membuat ibuku selalu bersedih jika melihatnya karena berat rasanya untuk melupakannya.

Agar bisa melupakan kepergian Ayahku maka aku bersama ibuku pindah ke kota Magelang untuk sejenak menenangkan diri, tetapi tempat kerja ibuku masih berada di Ngadirejo dan mau tak mau ibuku harus laju setiap hari, 2-3 jam perjalanan untuk pulang & pergi. Kami berdua tinggal di rumah keluarga besar ibuku, yaitu Master ‘Harjo Paku.

Aku menyebut kakekku master karena kakek nenekku ini adalah sepasang suami istri yang sangat di kagumi masyarakat di sekitarnya karena mereka mempunyai 18 anak, buah dari perkawinan mereka.
Bayangkan saja !!!
Ibuku no 4 dari 18 bersaudara, betapa besar sekali keluarga ibuku, dan mungkin dengan berkumpulnya bersama semua keluarga besar ini mampu membuat ibuku terhibur dan sejenak melupakan kesedihannya. 

Di kota Magelang, aku melanjutkan sekolah mulai kelas 2 di SD Rejowinangun Selatan 2 yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kakekku dan bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Seiring waktu, kehidupanku bersama ibuku mulai berjalan seperti biasanya walau sudah tidak ada Ayahku.

Setelah lulus SD aku melanjutkan sekolah di SMP Tarakanita Magelang atas pilihan ibuku yang menginginkan aku lebih disiplin, karena sekolah ini memang sangat terkenal dengan kedisiplinannya. Bertumbuh tanpa seorang ayah sejak kecil dan selalu dimanja ibuku, membuat aku menjadi anak bandel.

Di saat aku naik kelas 3 SMP ibuku mulai sakit-sakitan, berulang kali melakukan pemeriksaan ke beberapa dokter. Penyakitnyapun tidak diketahui, dokter hanya bilang kecapekan dan perlu extra istirahat. Aku yakin, ibuku mulai sakit karena tak pernah berhenti memikirkan ayahku yang telah tiada atau mungkin karena terlalu capek bekerja, karena harus laju magelang – ngadirejo setiap hari untuk bekerja.

Ibuku adalah sosok wanita yang amat setia dan tulus hatinya. Dimana sepeninggal ayahku, ibuku tidak mau menikah lagi. Hanya sosok ayahku saja yang selalu tertanam di hatinya walaupun sudah meninggalkannya sekian lama, hampir 9 tahun lamanya menjanda.

Aku sangat Bangga pada Ibuku, beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena kebandelanku dan ulahku tapi dia tidak pernah memarahiku justru semakin memanjakanku. Dia seorang wanita yang tangguh, tabah dan kuat hatinya dalam menghadapi segala cobaan & rintangan… 

Ibuku adalah wanita terhebat dalam hidupku…

Setelah sekian lama ibuku laju magelang – ngadirejo untuk mengajar, beliau boleh pindah mengajar di SD Kemirirejo 1 Magelang, tetapi sudah dalam kondisi sakit. Fisiknya semakin hari semakin lemah karena sakit yang di deritanya tak kunjung sembuh justru semakin parah.

Setelah lulus SMP akupun melanjutkan sekolah di SMA Negeri 3 Magelang. Dan di saat baru saja menginjak kelas 1 SMA, karena sakit yang terlalu lama ia derita akhirnya Ibuku pergi meninggalkan aku seorang diri menghadap Sang Pencipta untuk bertemu dengan Ayahku. Di usiaku yang masih 15 tahun, aku harus hidup seorang diri tanpa Ayah Ibu, bahkan aku tidak memiliki saudara kandung satupun.

Saat ibuku berpulang ke rumah Tuhan, di benakku hanya terlintas ;

Bagaimana aku bisa menjalani hidup ini seorang diri…?

Oh Tuhan, ampuni dosa kedua orang tuaku…

Saya Percaya bahwa Rencana Tuhan itu indah, kita tidak ada yang tau di balik semua ini…

Walaupun sedih bagiku tapi kedua orang tuaku sudah bahagia di sana, akupun harus berusaha untuk selalu Bahagia. Mereka sudah bersatu dan berkumpul kembali, aku yakin mereka selalu melihatku dan membimbingku dari Surga sana.

Perlu kekuatan batin dan mental untuk menghadapi kehidupan ini seorang diri, tidak ada yang peduli untuk mengaturku, membimbingku, mengajariku, memarahiku, aku bebas hidup sesuka aku…

Tetapi, disinilah ternyata kemandirianku mulai terbentuk dengan sendirinya. Apapun itu, aku harus berusaha bisa menghadapinya seorang diri.

Aku selalu berdoa & berharap agar kehidupanku kedepan akan menjadi lebih baik dan aku selalu membayangkan dan memimpikan bahwa hidupku akan indah suatu saat nanti.

Aku Pasti akan menjadi orang Hebat & Sukses…

Apa jadinya Aku kelak? Tak ada yang perduli, semua tergantung diriku sendiri dalam menjalankan kehidupan ini.

Tak ada siapapun yang menghargaiku saat itu, semuanya acuh tak acuh karena keadaan dan statusku,…

Aku selalu memimpikan, bahwa “Aku Bisa menjadi orang Hebat dan Sukses”, karena aku ingin di hargai oleh semua orang !!!”

Akupun mengikuti Arus Kehidupan, bermodal hidup dari dana pensiun yatim piatu dan menumpang hidup di tempat paklik/bulik dan pakdhe/budhe dari Keluarga Besar Mbah Kastubi ataupun Mbah Harjo Paku, akupun bisa terus hidup dengan bahagia dan bahkan bisa menyelesaikan semua pendidikanku hingga universitas.

Sepulang sekolah saat SMA aku harus membantu paklik di bengkel miliknya dan kadang membantu bulik di pasar untuk menjaga warungnya agar bisa tinggal di rumah mereka dan mendapatkan sesuap nasi. Dana Pensiun yang aku dapatkan setiap bulan selalu aku kumpulkan yang rencananya untuk biaya kuliahku agar tidak membebani paklik & bulikku nantinya dan untuk biaya hidup saat kuliah. Dimana dana pensiun dari pemerintah hanya akan aku terima hingga usiaku 21 tahun saja kecuali aku masih bersekolah maka bisa mengajukan sampai selesai sekolahku.

Dan akhirnya setelah aku lulus kuliah, aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk terus bertahan di dalam kehidupan ini walaupun seorang diri…

.

Semua ada Hikmahnya… 

Puji Syukur aku bisa memulai sebuah “Kehidupan Baru yang sungguh Istimewa…
Setelah lulus dari Kehutanan UGM, pada tahun 2000 aku mulai merantau dan bekerja sebagai Mandor Perkebunan di Wanayasa Purwakarta, 3 tahun lamanya bergelut dengan kebun yang jauh dari lingkungan masyarakat, rasa bosan mulai muncul dan ingin ada perubahan yang lebih baik.

Tahun 2003, aku merantau ke Ibu Kota untuk bersekolah lagi di fakultas Ekonomi Universitas Borobudur (walau tak sampai lulus) sambil bekerja sebagai seorang sales di sebuah pabrik pengecoran besi (Foundry Manufacture) yang berada di Kawasan Industri Pulogadung – Jakarta.

Di perusahaan pengecoran ini karierku mulai bertumbuh seiring waktu, mengawali dari seorang sales hingga jabatan terakhir sebagai Ast. Marketing Manager selama 10 tahun bekerja. Pada tahun 2013 aku resign dari perusahaan tersebut untuk mencari pekerjaan baru dengan tujuan mendapatkan pengalaman & penghasilan yang lebih baik lagi. 

Pengalaman lebih dari 10 tahun menjadi Marketing adalah modal dan sebulan setelah aku resign aku mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan Machinery yang lokasinya di Jababeka Cikarang. Kembali mengawali karier sebagai Productivity Enginering dan hanya selama 6 bulan lalu aku di percaya untuk membuat sebuah perusahaan baru di daerah delta silicon Cikarang, merencanakan master plan dari lahan kosong hingga menjadi sebuah perusahaan yang siap beroperasi. 2,5 tahun sudah mengerjakan proyek pembangunan perusahaan ini hingga perusahaan mulai beroperasi dan berproduksi lalu aku diangkat menjadi pimpinan perusahaan tersebut menjabat sebagai Plan Manager.

Akhir tahun 2015 disaat karier di perusahaan mulai meningkat dan mulai di percaya untuk mengelola perusahaan tersebut, justru aku menyatakan resign dari perusahaan tersebut untuk menjalankan sebuah usaha yang sudah mulai aku rintis satu setengah tahun sebelumnya.

Tepatnya pada awal tahun 2014 sambil bekerja dan di sela-sela waktu kosong, aku mulai mencoba merintis usaha di bidang Asuransi Jiwa bergabung bersama PT AJ Central Asia Raya – Salim Group sebagai seorang Agen Asuransi Jiwa khusus menjalankan program ‘3iNetworks.

Bermodalkan kenekatan dan kemauan untuk mencoba sebuah perubahan, aku selalu menawarkan program 3iNetworks ini kepada siapa saja yang aku temuin, baik yang aku kenal ataupun tidak. 

Cerita dan terus bercerita tentang manfaat program 3iNetworks ini justru membuat aku semakin di jauhi banyak orang baik saudara ataupun teman, kadang sampai teman-temanku merasa jijik, risih dan malas bertemu denganku dan menjauhiku.

Tentunya dari sekian banyak teman, ada yang menerima dan ada yang menolak, tapi lebih banyak yang nolak pastinya.

Semua itu terus aku lakukan tak perduli aku dimusuhin, dijauhi, di cibir, di hina, direndahkan dll, yang penting “Aku berusaha memberikan informasi yang terbaik kepada mereka tentang manfaat program 3iNetworks bagi masa depan mereka & Keluarganya, inilah bentuk rasa peduliku pada teman-temanku, dan hal ini terus aku lakukan hingga kini…

Teman lama menghilang tapi bertambah teman-teman baru yang satu visi dan misi untuk memiliki masa depan yang lebih baik dan mereka siap berjuang & bekerjasama dalam meraih Impian bersama-sama. Teman-teman lamaku tidak peduli dengan ceritaku, padahal aku perduli sangat pada masa depan/tua mereka dan keluarganya. Bukan sekedar bonus yang aku harapkan tetapi perubahan hidup bagi teman-temanku adalah sebuah harapan & kebanggaan tersendiri.

Bermodal keyakinan dan impian besar, akhirnya sedikit demi sedikit apa yang aku lakukan tersebut membuahkan hasil yang luar biasa dan dapat merubah hidupku menjadi jauh lebih baik. 

Semua itu belajar dari “Pengalaman Hidupku Sendiri“, kedua orang tuaku meninggal saat masih kecil dan mereka tidak meninggalkan apa-apa untukku, aku tidak mau hal yang sama terjadi pada keluarga baruku. Maka aku berjaga-jaga dan memulai menyiapkan dana cadangan untuk kehidupan keluargaku, baik untuk sekolah anak-anakku dan masa tuaku sendiri.

Kita semua tidak tahu usia kita berakhir sampai kapan dan kekuatan fisik kita sampai dimana, itulah yang membuat aku bertekad bergabung bersama ‘3iNetworks dan memulai serius menjalankan bisnis ini, dengan tujuan agar keluargaku tercinta akan selalu hidup Bahagia saat ini dan mempunyai dana cadangan untuk masa depan / masa tuaku. 

Tuhan Maha Adil dan Maha Sempurna, Dia tidak akan meninggalkan umatnya dalam kenistaan dan kehancuran, aku merasa di topangnya sehingga aku masih bisa hidup bahagia sampai hari ini bersama keluarga baruku.

.Inilah “Keluarga Baruku

Aku menyebut diri sebagai Sang Pemimpi, karena aku meyakini penuh bahwa apa yang terjadi dalam kehidupanku saat ini adalah wujud dari mimpi-mimpi yang pernah terlintas dalam di benakku…

Inilah sepenggal cerita hidupku, semoga bisa menginspirasi & bermanfaat bagi banyak orang agar mau & mampu berusaha menjadi lebih baik lagi dari hari ini demi Keluarga Tercinta.

Terimakasih, sudah mau membaca Kisah Hidupku, semoga bermanfaat.

Salam Perubahan
Ary Praptono | Sang Pemimpi  

.