ARY PRAPTONO namaku,… 
Aku adalah anak tunggal dari pasangan PRAPTI & TONO.

Orang tuaku tinggal di desa gandu wetan ngadirejo – Temanggung, sekitar 1 jam perjalanan dari Magelang. Kami tinggal dirumah mbah Kastubi yaitu orang tua dari ayahku. Mbah Kastubi kakung adalah seorang tukang kayu dan mbah putri adalah pembuat kasur kapas.

Di usiaku 4 tahun, aku mulai bersekolah di TK Ngadirejo yang lokasinya cukup jauh dari rumahku. Berangkat sekolah aku diantar ayah & ibu naik motor bersamaan mereka berangkat bekerja tetapi saat pulang sekolah aku dijemput oleh seorang kusir andong langganan. Sambil menunggu orang tuaku pulang bekerja aku ditemani oleh mbah putri setiap harinya. Setelah TK, aku melanjutkan ke SD Ngadirejo 1 yang lokasinya bersebelahan dengan TK ku.

Inilah cerita hidupku…

Saat itu aku masih di Kelas 1 SD dan usiaku baru 6,5 tahun, tiba-tiba keluargaku mendapatkan sebuah musibah besar.

Ayahku sakit & oleh dokter di diagnosa menderita sakit ginjal karena sering menahan kencing dan harus segera dilakukan operasi. Dan baru beberapa hari berada di rumah sakit dan belum dilakukan tindakan apapun tiba-tiba ayahku meninggal dunia. Ayahku meninggalkan aku dan ibuku untuk kembali menghadap Sang Pencipta di saat usianya masih muda, baru 36 tahun. 

Seluruh keluarga terkejut & tak menyangka sama sekali akan kejadian itu, kami hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan itu. Kami punya keyakinan bahwa ayahku pastinya sudah bahagia di sana dan tetap selalu memperhatikan kami dari surga sana.

Makam ayahku tidaklah jauh dari rumah mbah Kastubi, jaraknya hanya sekitar 300 m dan terlihat jelas dari teras rumah, hal ini yang membuat ibuku selalu bersedih jika berada di rumah karena mudah memandang makamnya dan karena mungkin memang berat untuk melupakan ayah di saat usia perkawinan mereka masih muda.

Agar bisa melupakan kepergian Ayahku maka ibuku memutuskan untuk pindah ke kota Magelang tuk sejenak menenangkan diri & kembali ke orang tua. Di Magelang kami tinggal di rumah keluarga besar ibuku, yaitu Mbah Harjo Paku. Mbah Harjo Paku adalah sosok yang sangat di kagumi masyarakat di sekitarnya karena mempunyai 15 anak dari buah perkawinannya.

Bayangkan saja !!!
Ibuku no 4 dari 15 bersaudara, betapa besar sekali keluarga ibuku. Dan mungkin dengan berkumpulnya bersama semua keluarga besar ini mampu membuat ibuku terhibur dan sejenak melupakan kesedihannya. 

Di kota Magelang, aku melanjutkan sekolah mulai kelas 2 di SD Rejowinangun Selatan 2 yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kakekku dan bisa aku tempuh dengan berjalan kaki.

Seiring waktu, kehidupanku bersama ibuku mulai berjalan seperti biasanya walau sudah tidak ada Ayahku. Setelah lulus SD aku melanjutkan sekolah di SMP Tarakanita atas pilihan ibuku yang menginginkan aku menjadi anak yang lebih disiplin. Bertumbuh tanpa seorang ayah sejak kecil dan selalu dimanja ibuku, mungkin itu yang membuatku menjadi anak bandel…

Di saat aku kelas 3 SMP ibuku mulai sakit-sakitan, berulang kali melakukan pemeriksaan ke beberapa dokter. Penyakitnya pun tidak diketahui, dokter hanya bilang kecapekan dan perlu ekstra istirahat. Aku yakin, ibuku mulai sakit karena tak pernah berhenti memikirkan ayahku yang telah tiada atau mungkin karena terlalu capek bekerja, karena harus laju magelang – ngadirejo setiap hari untuk bekerja.

Ibuku adalah sosok wanita yang amat setia dan tulus hatinya. Dimana sepeninggal ayahku, ibuku tidak mau menikah lagi. Hanya sosok ayahku saja yang selalu tertanam di hatinya walaupun sudah meninggalkannya sekian lama, hampir 9 tahun lamanya menjanda.

Saat aku masih bayi bersama ibuku dan kakak sepupuku

 

Ibuku adalah Wanita Terhebat…

Setelah sekian lama ibuku laju magelang – ngadirejo untuk mengajar, beliau boleh pindah mengajar di SD Kemirirejo 1 Magelang, tetapi sudah dalam kondisi sakit-sakitan. Fisiknya semakin hari semakin lemah karena sakit yang di deritanya tak kunjung sembuh.

Setelah lulus SMP aku melanjutkan sekolah di SMA Negeri 3. Di saat inilah, saat awal menginjak kelas 1 SMA, karena sakit yang terlalu lama ia derita akhirnya Ibuku pergi menghadap Sang Pencipta untuk bertemu dengan Ayahku meninggalkan aku seorang diri.

Di usiaku yang masih 15 th, aku harus hidup seorang diri tanpa Ayah & Ibu, bahkan aku tidak memiliki saudara kandung satupun.

Saat itu, di benakku hanya terlintas; Bagaimana sekolahku, bagaimana aku menjalani hidup ini seorang diri…? Bagaimana & bagaimana…? 

Aku percaya bahwa Rencana Tuhan itu indah, kita tidak ada yang tau di balik semua ini…

Walaupun sedih bagiku tapi kedua orang tuaku sudah bahagia dan selalu mengawasiku dari sana, aku harus berusaha untuk selalu Bahagia. Mereka sudah bersatu dan berkumpul kembali, aku yakin mereka selalu melihatku dan membimbingku dari Surga sana.

Perlu kekuatan batin dan mental untuk menghadapi kehidupan ini seorang diri, tidak ada yang peduli untuk mengaturku, mengajariku, memarahiku, aku bebas hidup sesuka aku…

Tetapi, disinilah ternyata kemandirianku mulai terbentuk dengan sendirinya. Apapun itu, aku harus berusaha bisa menghadapinya seorang diri.

Aku selalu berdoa & berharap agar kehidupanku kelak akan menjadi lebih baik dan aku selalu membayangkan dan memimpikan bahwa hidupku akan indah suatu saat nanti, menjadi orang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang.

Aku Pasti Bisa…

Apa jadinya Aku kelak? Tak ada yang perduli, semua tergantung diriku sendiri dalam menjalankan kehidupan ini.

Aku selalu bermimpi, bahwa “Aku kelak bisa menjadi orang Hebat & Sukses”.

Bermodal hidup dari dana pensiun yatim piatu dan menumpang hidup di tempat paklik/bulik & pakdhe/budhe dari Keluarga Mbah Kastubi ataupun Mbah Harjo Paku, akupun bisa terus hidup dengan baik dan bahkan bisa menyelesaikan semua pendidikanku.

Setelah ayah ibuku tiada, sepulang sekolah saat SMA aku harus membantu paklik di bengkel miliknya dan kadang membantu bulik di pasar untuk menjaga warungnya agar bisa tinggal bersama mereka dan mendapatkan penghidupan yang layak setiap harinya. Dana Pensiun yang aku dapatkan setiap bulan tidaklah besar, uang itu selalu aku kumpulkan & tabung yang rencananya untuk biaya kuliahku agar tidak membebani paklik & bulikku nantinya. Dana pensiun dari pemerintah hanya aku terima hingga usiaku 21 tahun saja.

Dan akhirnya setelah melewati segala badai akupun bisa lulus kuliah dan aku mendapatkan pekerjaan yang layak untuk terus bertahan di dalam kehidupan ini walaupun seorang diri… 

Semua ada Hikmahnya… 

Puji Syukur aku bisa memulai sebuah “Kehidupan Baru yang sungguh Istimewa…
Setelah lulus dari Kehutanan UGM, pada tahun 2000 aku merantau ke Ibukota untuk bekerja, diawali sebagai penjaga kebun duku di cibubur lalu dipindah sebagai Mandor Perkebunan di daerah Wanayasa Purwakarta. 3 tahun lamanya bergelut dengan perkebunan yang jauh dari perkotaan, rasa bosan mulai muncul dan ingin ada perubahan yang lebih baik lagi.

Tahun 2003, aku kembali merantau ke Ibu Kota dan mencoba bersekolah lagi di fakultas Hukum Universitas Borobudur (tak sampai lulus) sambil bekerja sebagai seorang sales di sebuah pabrik pengecoran besi (Foundry Manufacture) yang berada di Kawasan Industri Pulogadung – Jakarta.

Di perusahaan pengecoran ini karierku mulai bertumbuh seiring waktu, mengawali dari seorang sales hingga jabatan terakhir sebagai Ast. Marketing Manager selama 10 tahun bekerja. Pada tahun 2013 aku resign dari perusahaan tersebut untuk mencari pekerjaan baru dengan tujuan mendapatkan pengalaman & penghasilan yang lebih baik lagi. 

Pengalaman lebih dari 10 tahun menjadi Sales Marketing adalah modal utama, dan setelah aku resign aku mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan Machinery yang lokasinya di Jababeka Cikarang. Kembali mengawali karier sebagai Productivity Engineering dan aku di percaya untuk membuat sebuah perusahaan baru di daerah Delta Silikon Cikarang, merencanakan master plan dari lahan kosong hingga menjadi sebuah perusahaan yang siap beroperasi. 2,5 tahun sudah mengerjakan proyek pembangunan perusahaan ini hingga perusahaan mulai beroperasi dan berproduksi lalu aku diangkat menjadi pimpinan perusahaan tersebut menjabat sebagai Plan Manager.

Akhir tahun 2015 disaat karier di perusahaan mulai meningkat dan mulai di percaya untuk mengelola perusahaan tersebut, justru aku menyatakan resign dari perusahaan tersebut untuk menjalankan sebuah usaha yang sudah mulai aku rintis satu tahun sebelumnya.

Tepatnya pada awal tahun 2014, sambil bekerja di sela-sela waktu kosong, aku mulai mencoba merintis usaha di bidang Asuransi Jiwa bergabung bersama PT AJ Central Asia Raya – Salim Group sebagai seorang Agen Asuransi Jiwa khusus menjalankan program ‘3iNetworks.

Bermodal keyakinan dan impian besar, akhirnya sedikit demi sedikit apa yang aku lakukan tersebut membuahkan hasil yang luar biasa dan dapat merubah hidupku menjadi lebih baik. 

Mengapa aku begitu serius dalam menawarkan 3iNetworks kepada siapa saja…?

Semua itu belajar dariPengalaman Hidupku Sendiri“, kedua orang tuaku meninggal saat aku masih kecil dan mereka tidak meninggalkan warisan apapun untukku, aku tidak mau hal yang sama terjadi pada keluarga baruku. Maka aku berjaga-jaga dan memulai menyiapkan dana cadangan untuk kehidupan keluargaku, baik untuk sekolah anak-anakku dan masa tuaku sendiri.

Kita semua tidak tahu usia kita berakhir sampai kapan dan kekuatan fisik kita sampai dimana, itulah yang membuat aku bertekad bergabung bersama ‘3iNetworks dan memulai serius menjalankan bisnis ini, dengan tujuan agar keluargaku tercinta akan selalu hidup Bahagia saat ini dan mempunyai dana cadangan untuk masa depan / masa tuaku. 

Kita adalah sama, kita harus berjaga-jaga demi keluarga tercinta…

Tuhan Maha Adil dan Maha Sempurna, Dia tidak akan meninggalkan umatnya dalam kenistaan dan kehancuran, aku merasa di topang-Nya sehingga aku masih bisa hidup bahagia sampai hari ini bersama keluarga baruku.

Inilah sepenggal cerita hidupku. Terimakasih sudah mau membaca Kisah Hidupku, semoga bisa bermanfaat bagi anda semua.
.

Aku meyakini bahwa apa yang kumiliki saat ini adalah wujud dari impian-impianku selama ini…


Klik Aja ☝️