Sang Pemimpi

Ary itulah namaku. . .
Aku adalah anak tunggal dari sepasang suami istri, yaitu “Dutono & Prapti”, penggabungan nama kedua orang tuaku inilah yang menjadikan nama belakangku bertambah “Praptono. 
Menjadi “Ary Praptono”.

Aku adalah Sang Pemimpi, dan aku meyakini bahwa apa yang terjadi hingga hari ini adalah wujud dari mimpi mimpi yang pernah terlintas di benakku…

slide1

 

Inilah sepenggal cerita tentang kisah hidupku…

Aku dilahirkan 40 tahun lalu di sebuah kota kecil di Jawa Tengah yaitu ‘MAGELANG yang sering disebut sebagai “Kota Sejuta Bunga“. Tiga bulan setelah dilahirkan, keluarga kami pindah ke sebuah desa kecil yaitu “Gandu Wetan, sebuah dusun kecil yang asri dan nyaman yang berlokasi di kecamatan Ngadirejo kabupaten Temanggung. Di sana, kami sekeluarga menetap bersama keluarga besar “KASTUBI. Masih sedikit teringat gambaran rumah kami yang terbuat dari papan kayu yang disusun melintang dan rapi, sebuah sumur yang dangkal di samping rumah, pohon jeruk dan kelengkeng di depan rumah, kamar mandi dan dapur yang terpisah dari rumah induk dan yang jelas waktu itu masih belom ada penerangan listrik. Penerangan sehari hari kami masih menggunakan sebuah lampu minyak/teplok, untuk menyalakan Televisipun kami menggunakan sebuah accu.

Waktu terus berjalan, entah apa yang aku alami dan terjadi saat kecil aku sendiri sudah banyak yang lupa, hanya mendengar sedikit cerita dari saudara-saudaraku tentang masa kecilku yang cukup bahagia dan cerita tentang kedua orang tuaku pada masa itu sangat harmonis. Di usia 4 tahun aku mulai bersekolah di TK Ngadirejo lalu melanjutkan sekolah dasar di SD Ngadirejo 1. Saat memasuki sekolah dasar dibangku kelas 1 “Ayahku meningalkan ibuku dan aku untuk menghadap Sang Pencipta karena sakit yang cukup lama di deritanya, saat itu aku belum faham dan belum bisa mengartikan kehilangan sosok seorang Ayah.
Yang aku tau tiap hari ibuku bersedih, menangis dan menangis saja, aku belom tau apa yang harus kulakukan untuk menghiburnya dan aku hanya berdiam saja seolah olah aku tidak tau apa apa.

Betapa berharganya sosok seorang Ayah dalam sebuah Kehidupan ini.
Tanpa kehadiran seorang Ayah ada suatu kehampaan, tidak ada yang bisa di banggakan.
Tidak ada Kehebatan seorang Ayah yang bisa aku tunjukkan kepada teman teman seumurku saat itu. Hal ini baru aku sadari setelah aku berusia 10 tahun.
Sepeninggal ayahku, aku bersama ibuku hijrah ke Magelang, kota asal tempat dimana ibuku juga dilahirkan. Kami berdua tinggal bersama keluaga besar Kakekku Sang Master “Harjo Paku.
Kenapa aku sebut kakekku sang master, karena kakeku dan nenekku adalah sepasang suami istri yang sangat di kagumi masyarakat sekitarnya karena mereka mempunyai 18 anak, buah perkawinannya.
Bayangkah saja !!!
Ibuku no 4 dari 18 bersaudara, betapa besar sekali keluarga ibuku. Tahun ini sih yang masih hidup tinggal 7 orang dari 18 bersaudara tersebut.

Di Magelang aku hidup berdua dengan ibuku dan aku melanjutkan sekolah dasar mulai kelas 2 di SD Rejowinangun Selatan 2 Magelang hingga lulus, lalu di lanjutkan ke SMP Tarakanita Magelang dan SMA Negeri 3 Magelang.

Saat memulai sekolah di bangku SMP dan saat itu pula ibuku mulai sakit sakitan seperti halnya ayahku waktu itu. Berulang kali melakukan pemeriksaan kepada beberapa dokter, penyakitnyapun tidak jelas, dokter hanya bilang kecapekan dan perlu extra istirahat. Aku yakin, ibuku mulai sakit karena selalu memikiran ayahku dan karena statusnya yang menjanda terlalu lama. Ibuku adalah sosok wanita yang amat setia dan tulus hati, dia tidak mau menikah lagi. Hanya sosok ayahku saja yang selalu tertanam di hatinya walaupun sudah meninggalkannya sekian lama, lebih dari 9 tahun.
Aku sangat Bangga, Haru dan Acung ke 4 jempol untuk Ibuku, dia seorang  ibu yang tabah dan kuat hatinya dalam menghadapi segala cobaan.

Ibuku adalah “wanita terhebat yang pernah ada di dalam hidupku”.

Didalam sakitnya, ibuku masih mencari nafkah sebagai seorang ‘guru sekolah dasar di SD Kemirirejo 1 Magelang. Fisiknya semakin lama semakin lemah karena sakit yang di deritanya tak kunjung sembuh. Karena penyakit yang di deritanya itu ibuku sering sekali keluar masuk rumah sakit. Aku sering di tinggal sendirian di rumah karena ibuku opname, baik opname di rumah sakit sekitar magelang ataupun di luar kota karena aku harus tetap bersekolah.

Saat usiaku 15 tahun dan sudah memasuki bangku SMA kelas 1, saat itu pula ibukupun pergi meninggalkan aku seorang diri menghadap Sang Pencipta untuk bertemu dengan Ayahku. Dan akhirnya aku mendapatkan gelar sebagai anak “yatim piatu & sebatang kara”. Disaat Ibuku meninggal di otakku hanya terlintas ;

“Aku terus piye lan kudu piye, uripku njuk karo sopo??? Sekolahku Piye???

Kedua orang tuaku sudah bahagia di sana, mereka sudah berkumpul kembali dan aku yakin mereka selalu melihatku dan membimbingku dari sana. Perlu kekuatan batin dan mental untuk menghadadapi predikat sebagai anak yatim piatu, tidak ada seorangpun yang mengaturku, bebas memilih kehidupan dan apapun yang aku lakukan. Tidak ada seorangpun yang melarangku.
Apa jadinya Aku kelak???
Tak ada yang perduli, semua tergantung diriku sendiri.

Akhirnya akupun mengikuti Arus Kehidupan, menumpang hidup di tempat paklik/bulik dan pakdhe/budhe dari keluarga besar “Kastubi ataupun “Harjo Paku hingga aku menyelesaikan semua pendidikanku untuk mampu Berdiri Sendiri. 

Semua ini ada Hikmahnya . . .

Puji Syukur, akupun bisa menyelesaikan kuliahku dan memulai sebuah “Kehidupan Baru.
Setelah lulus dari Kehutanan UGM pada tahun 2000 aku mulai merantau dan bekerja sebagai Mandor Perkebunan di Wanayasa Purwakarta. Lalu pada tahun 2003 merantau ke Ibu Kota untuk bersekolah lagi di fakultas Hukum Universitas Borobudur, tapi sayang tidak sampai selesai hanya sampai semester 8, hanya mengambil sepenggal Ilmu tanpa Ijazah.
Di tahun yang sama aku mulai bekerja sebagai seorang Sales di perusahaan Pengecoran Besi di Kawasan Industri Pulogadung – Jakarta. Dalam bekerja di perusahaan ini karierku mulai bertumbuh, berawal dari seorang Sales hingga jabatan terakhir sebagai Asistent Marketing Manager, pada tahun 2013 aku resign dari perusahaan ini untuk mencari perusahaan baru dengan tujuan mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Pengalaman lebih dari 10 tahun menjadi seorang Sales & Marketing ini yang memacu untuk melakukan dan mendapatkan hal yang baru, aku juga ingin mempunyai sebuah usaha sendiri tapi belom kesampaian juga.
Di tahun 2013 aku mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa machinery yang lokasinya di Lippo Cikarang. Kembali mengawali karier sebagai Productivity Enginering dan aku di percaya untuk membuat sebuah perusahaan, merencanakan Master Plan dari sebuah lahan kosong hingga menjadi sebuah perusahaan yang siap beroperasi. 2 tahun sudah pengabdian di perusahaan ini hingga menjabat sebagai Plan Manager.
Pada tahun 2015, disaat karier mulai meningkat aku justru menyatakan resign dari perusahaan tersebut untuk menjalankan sebuah bisnis yang sudah mulai aku rintis setahun sebelumnya.

Pada tahun 2014 sambil bekerja aku mulai merintis usaha di bidang Networks Marketing bergabung bersama sebuah perusahaan besar PT AJ. Central Asia Raya – Salim Group sebagai seorang Agen Asuransi khusus program “3i Networks. Silahkan baca catatan saya tentang perjalanan bersama 3i Networks, klik aja gambar di bawah ini…

Cerita Singkat dalam menjalankan bisnis 

Kita semua tidak tau usia kita berakhir sampai kapan & dan kekuatan fisik kita sampai dimana, itulah yang membuat aku bertekat bergabung bersama “3i Networks dan memulai bisnis ini, dengan tujuan agar keluargaku tercinta akan selalu hidup bahagia saat ini dan mempunyai dana cadangan untuk masa depan. 

Semua itu belajar dari “pengalaman hidupku, kedua orang tuaku tidak meninggalkan apa-apa untukku, aku tidak mau hal yang sama terjadi pada keluarga baruku. Maka aku berjaga jaga dan memulai menyiapkan dana cadangan untuk kehidupan keluargaku, baik untuk sekolah anak-anakku dan masa tuaku. Semoga dengan hal ini aku bisa membahagiakan keluargaku dan berharap saat tua nanti aku masih bisa tersenyum dan melihat anak cucuku bertumbuh dengan penuh kebahagiaan. 

my famMilikilah Polis Asuransi sebagai tanda cinta Anda kepada Keluarga

Tuhan Maha Adil dan Maha Sempurna, Dia tidak akan meninggalkan umatnya dalam kenistaan dan kehancuran, aku merasa ditopangnya sehingga aku masih bisa hidup bahagia sampai hari ini bersama keluarga baruku. Dan sekarang aku mempunyai “Keluarga Baru yang bisa aku Banggakan.

my fam

Itu sepenggal cerita kisah hidupku, dan aku yakin semua itu ada hikmahnya untuk kita bisa berjumpa di hari ini. . . 

Salam Kenal & Salam Persahabatan
Ary Praptono | Sang Pemimpi