Profilku

Ary Praptono itulah namaku. . .
Aku adalah anak Tunggal dari sepasang suami istri “Dutono & Prapti”.

Nama Praptono, berasal dari penggabungan nama kedua orang tuaku “Prapti + Tono”.

Inilah kisahku…

Nama Panggilanku Ary… Aku dilahirkan 42 tahun lalu di sebuah kota kecil di Jawa Tengah yaitu ‘MAGELANG. Tiga bulan setelah aku lahir, kami sekeluarga tinggal ke sebuah desa kecil yaitu “Gandu Wetan, yang berlokasi di kecamatan Ngadirejo kabupaten Temanggung. Disana, kami sekeluarga menetap bersama keluarga besar “Mbah KASTUBI, yang merupakan ayah dari bapakku.

Gandu Wetan adalah sebuah dusun kecil yang asri, nyaman, tenang dan dingin dengan kehidupan masyarakat mayoritas sebagai petani tembakau. Aku masih sedikit teringat gambaran rumah kami yang terbuat dari papan kayu yang disusun melintang dan rapi dengan sebuah pintu dan tiga jendela kaca di bagian depan, sebuah sumur yang dangkal di samping rumah, pohon jeruk dan kelengkeng di depan rumah, kamar mandi dan dapur yang berada di sebelah kanan rumah dan terpisah dari rumah induk dan waktu itu masih belom ada penerangan listrik. Penerangan sehari hari kami masih menggunakan sebuah lampu minyak/teplok. 

fotoku saat masih bayi bersama ibuku dan kakak sepupuku

Apa yang aku alami dan terjadi saat kecil aku sudah banyak yang lupa, hanya mendengar sedikit cerita dari simbahku tentang masa kecilku yang cukup bahagia dan cerita tentang kedua orang tuaku pada masa itu sangat harmonis.

Saat usia 4 tahun aku mulai bersekolah di TK Ngadirejo 1, lalu setelah itu aku melanjutkan sekolah dasar di SD Ngadirejo 1 yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggalku, berangkat sekolah aku selalu diantar ayah ibu tapi saat pulang sekolah aku dijemput oleh seorang kusir andong / dokar langgananku.

Disinilah cerita kehidupanku di mulai…

Saat itu aku masih kelas 1 SD, sebenarnya masa ini adalah masa yang sangat menyenangkan sebagai anak-anak tapi berbeda denganku, tiba-tiba di saat itu ayahku meningalkan aku dan ibuku untuk menghadap Sang Pencipta karena sakit yang ia derita, sakitnya hanya sebentar saja tapi itu bisa merenggut nyawanya. Seluruh keluargapun kaget termasuk keluarga besar ibuku yang ada di magelang, usia ayahku masih sangat muda waktu meninggal, ’36 tahun.

Waktu ayahku meninggal, aku masih belum faham dan belum bisa mengartikan akan kehilangan sosok seorang Ayah, seperti hal biasa saja bagiku. Tetapi berbeda dengan ibuku, setiap hari ibuku bersedih dan menangis terus karena di tinggal ayahku, akupun tidak tau apa yang harus kulakukan untuk menghibur ibuku, aku hanya berdiam seakan-akan aku tidak tau apa-apa.

Sepeninggal ayahku, aku bersama ibuku pindah ke Magelang. Kami berdua tinggal bersama keluarga besar ibuku dan aku tinggal dirumah kakekku Sang Master “Mbah Harjo Paku.
Kenapa aku sebut kakekku sang master, karena kakekku dan nenekku adalah sepasang suami istri yang sangat di kagumi masyarakat sekitarnya karena mereka mempunyai 18 anak, buah dari perkawinannya.
Bayangkah saja !!!
Ibuku no 4 dari 18 bersaudara, betapa besar sekali keluarga ibuku. 

Di Magelang ibuku membuat rumah di samping rumah kakekku, aku hidup berdua dengan ibuku dan akupun melanjutkan sekolah kelas 2 di SD Rejowinangun Selatan 2 lalu di lanjutkan ke SMP Tarakanita dan SMA Negeri 3 Magelang.

Saat aku mulai sekolah di bangku SMP ibuku mulai sakit sakitan. Berulang kali melakukan pemeriksaan kepada beberapa dokter, penyakitnyapun tidak diketahui, dokter hanya bilang kecapekan dan perlu extra istirahat. Aku yakin, ibuku mulai sakit karena selalu memikiran ayahku dan karena statusnya yang menjanda terlalu lama. Atau mungkin karena kecapekan bekerja, karena harus laju magelang – ngadirejo setiap hari untuk mengajar di SD Karanggedong.

Ibuku seorang guru SD, dia adalah sosok wanita yang amat setia dan tulus hati. Sepeninggal ayahku, ibuku tidak mau menikah lagi. Hanya sosok ayahku saja yang selalu tertanam di hatinya walaupun sudah meninggalkannya sekian lama, 9 tahun menjanda. Aku sangat Bangga, Haru dan Acung ke 4 jempol untuk Ibuku, dia seorang wanita yang tabah dan kuat hatinya dalam menghadapi segala cobaan… 

Ibuku adalah “wanita terhebat & terkuat yang pernah ada dalam hidupku”

Akhirnya setelah sekian lama ibuku laju magelang -ngadirejo, beliau pindah mengajar di SD Kemirirejo 1 Magelang, tetapi sudah dalam kondisi sakit.

Fisiknya semakin hari semakin lemah karena sakit yang di deritanya tak kunjung sembuh. Karena penyakit yang di deritanya itu ibuku sering sekali keluar masuk rumah sakit dan opname.

Saat menginjak kelas 1 SMA (usiaku 15 tahun) karena sakit yang di deritanya ibukupun pergi meninggalkan aku seorang diri menghadap Sang Pencipta untuk bertemu dengan Ayahku…

Akhirnya aku hidup seorang diri tanpa Ayah dan Ibu, bahkan aku tidak memiliki saudara kandung satupun.

Berat rasanya hidup sendiri. Saat itu di benakku hanya terlintas ;

Bagaimana menjalani hidup ini…??? Bagaimana dengan Sekolahku…???

Rencana Tuhan itu indah, kita tidak ada yang tau di balik semua ini…

Walaupun sedih bagiku tapi Kedua orang tuaku sudah bahagia di sana dan aku juga harus berusaha untuk Bahagia, mereka sudah berkumpul kembali dan aku yakin mereka selalu melihatku dan membimbingku dari surga.

Perlu kekuatan batin dan mental untuk menghadadapi predikat sebagai seorang Yatim Piatu & Sebatang Kara, tidak ada yang peduli untuk mengaturku, membimbingku, mengajariku, memarahiku, aku bebas memilih kehidupan apapun sesuka aku. 

Tetapi, disinilah ternyata kemandirianku mulai terbentuk dengan sendirinya. Apapun itu aku harus bisa menghadapinya sendiri.

Aku selalu berharap kehidupanku kedepan akan menjadi lebih baik dan aku selalu membayangkan dan memimpikan bahwa hidupku akan indah suatu saat nanti. Aku akan menjadi orang Sukses…

Apa jadinya Aku kelak??? Tak ada yang perduli, semua tergantung diriku sendiri dalam menjalankan kehidupan ini.

Aku harus Bisa menjadi orang Hebat dan Sukses, aku pasti akan di hargai oleh semua orang !!!

Akupun mengikuti Arus Kehidupan, bermodal hidup dari dana pensiun yatim piatu dan menumpang hidup di tempat paklik/bulik dan pakdhe/budhe dari Keluarga Besar simbah “Kastubi ataupun “Harjo Paku, akupun bisa menyelesaikan semua pendidikanku hingga universitas. 

Semua itu ada Hikmahnya… 

Puji Syukur akupun bisa memulai sebuah “Kehidupan Baru…
Setelah lulus dari Kehutanan UGM, pada tahun 2000 aku mulai merantau dan bekerja sebagai Mandor Perkebunan di Wanayasa Purwakarta, 3 tahun lamanya bergelut dengan kebun yang jauh dari lingkungan masyarakat, rasa bosan mulai muncul dan ingin ada perubahan yang lebih baik.

Lalu pada tahun 2003 merantau ke Ibu Kota untuk bersekolah lagi di fakultas Ekonomi Borobudur sambil bekerja sebagai seorang sales di sebuah pabrik pengecoran besi (Foundry & Machinery) yang berada di Kawasan Industri Pulogadung – Jakarta. Dalam bekerja di perusahaan ini karierku mulai bertumbuh seiring waktu, mengawali dari seorang sales hingga jabatan terakhir sebagai Ast. Marketing Manager selama 10 tahun perjalananku di perusahaan tersebut. Pada tahun 2013 aku resign dari perusahaan ini untuk mencari perusahaan baru dengan tujuan mendapatkan penghasilan yang lebih baik. 

Pengalaman lebih dari 10 tahun menjadi seorang Marketing, ini yang memacu untuk melakukan dan mendapatkan hal yang baru dengan tujuan hasil yang lebih baik. Sebulan setelah aku resign aku mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan Machinery yang lokasinya di Jababeka Cikarang. Kembali mengawali karier sebagai Productivity Enginering hanya selama 6 bulan lalu aku di percaya untuk membuat sebuah perusahaan baru, merencanakan master plan dari sebuah lahan kosong hingga menjadi sebuah perusahaan yang siap beroperasi. 1,5 tahun sudah mengerjakan proyek pembangunan perusahaan ini hingga perusahaan mulai beroperasi dan berproduksi lalu aku diangkat menjadi pimpinan perusahaan tersebut menjabat sebagai Plan Manager.

Akhir tahun 2015 disaat karier di perusahaan mulai meningkat dan mulai di percaya untuk mengelola perusahaan itu sendiri, justru aku menyatakan resign dari perusahaan tersebut untuk menjalankan sebuah usaha sendiri yang sudah mulai aku rintis setahun sebelumnya.

Tepatnya pada tahun 2014 sambil bekerja di sela-sela waktu kosongku aku mulai mencoba merintis usaha di bidang Asuransi Jiwa bergabung bersama sebuah perusahaan besar PT AJ. Central Asia Raya – Salim Group sebagai seorang Agen Asuransi Jiwa khusus program “3i Networks.

Bermodalkan kenekatan dan kemauan untuk mencoba sebuah perubahan, aku selalu menawarkan program 3i Networks ini kepada siapa saja yang aku temuin, baik yang aku kenal ataupun tidak. Orang jawa bilang, Hantem Kromo…

Cerita dan terus bercerita tentang hebatnya dan manfaat program 3i Networks ini justru membuat aku di jauhi banyak orang, kadang sampai teman-temanku merasa jijik, risih dan malas bertemu denganku. Ada yang menerima dan ada yang menolaknya, tapi lebih banyak yang nolak daripada menerima. Semua itu terus aku lakukan tak perduli apa yang akan terjadi yang penting “aku memberikan informasi yang baik kepada mereka tentang manfaat 3i Networks bagi masa depan mereka sendiri” sebagai rasa peduliku pada teman-temanku dan hal ini terus aku lakukan hingga kini…

Teman lama menghilang, tapi bertambah teman-teman baruku yang satu visi dan misi untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Teman lamaku tidak peduli dengan ceritaku, padahal aku perduli sangat pada masa depan mereka dan keluarganya…

Bermodal keyakinan dan impian besar, akhirnya sedikit demi sedikit apa yang aku lakukan tersebut membuahkan hasil yang luar biasa dan dapat merubah hidupku menjadi jauh-jauh lebih baik..

Tujuan utama adalah aku ingin memiliki sebuah “Proteksi sekaligus Investasi”, kita semua tidak tahu usia kita berakhir sampai kapan & dan kekuatan fisik kita sampai dimana, itulah yang membuat aku bertekat bergabung bersama “3i Networks dan memulai serius menjalankan bisnis ini, dengan tujuan agar keluargaku tercinta akan selalu hidup Bahagia saat ini dan mempunyai dana cadangan untuk masa depan. 

Semua itu belajar dari “Pengalaman Hidupku sendiri”, kedua orang tuaku meninggal saat masih muda dan mereka tidak meninggalkan apa-apa untukku, aku tidak mau hal yang sama terjadi pada keluarga baruku. Maka aku berjaga jaga dan memulai menyiapkan dana cadangan untuk kehidupan keluargaku, baik untuk sekolah anak-anakku dan masa tuaku. 

Tuhan Maha Adil dan Maha Sempurna, Dia tidak akan meninggalkan umatnya dalam kenistaan dan kehancuran, aku merasa ditopangnya sehingga aku masih bisa hidup bahagia sampai hari ini bersama keluarga baruku.

Inilah ceritaku, semoga bisa menginspirasi bagi kehidupan banyak ornag menjadi lebih baik.

Terimakasih.


Dan inilah “Keluarga Baruku yang bisa aku Banggakan.my fam

Aku menyebut diri sebagai Sang Pemimpi, karena aku meyakini bahwa apa yang terjadi dalam kehidupanku hingga hari ini adalah wujud dari mimpi-mimpi yang terlintas dalam di benakku…

.

Silahkan baca catatanku

Ceritaku dalam menjalankan Bisnis 3iNetworks

.